Call Center or Whatsapp +62 8575 999 8681 info@chinesecure.info
 

Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk pengobatan kanker, seperti operasi bedah, radioterapi, kemoterapi, dan beberapa yang lain. Salah satu dari sekian terapi yang cukup efektif untuk mengobati kanker adalah photodynamic therapy atau sering disingkat PDT.

 

PDT terdiri dari dua komponen utama, yaitu sumber cahaya yang dapat memancarkan cahaya dalam Panjang gelombang tertentu serta, photosensitizer atau zat yang diinjeksikan ke pasien yang nantinya akan bereaksi dengan cahaya yang dipancarkan. Salah satu photosensitizer yang paling sering digunakan dalam PDT adalah zat yang bernama verteporfin. Sementara cahaya yang paling akurat untuk dipancaran dalam PDT adalah cahaya dengan Panjang gelombang 689 nm.

 

Bagaimana cara kerja terapi PDT? Pertama, pasien akan diinjeksi dengan photosensitizer pada bagian tubuh yang terdapat sel kanker. Berarti, lokasi dari sel kanker tersebut harus diketahui terlebih dahulu dengan presisi. Kemudian, laser yang memancarkan cahaya dengan gelombang 689 nm akan ditembakkan ke pasien. Photosensitizer akan menyerap energi cahaya tersebut. Energi cahaya ini disebut dengan foton.

 

Pada awalnya, atom-atom photosensitizer berada dalam tingkat dasar (ground state). Setelah terkena pancaran sinar, maka photosensitizer akan berada dalam keadaan tereksitasi. Selanjutnya, photosensitizer akan bereaksi dengan molekul-molekul yang berada di sekitarnya, terutama dengan molekul oksigen, dan menghasilkan Cytotoxic Reactive Oxygen Species (ROS). ROS ini mengakibatkan sel-sel yang telah diinjeksikan dengan photosensitizer mengalami apostosis dan nekrosis.

 

Apoptosis adalah kematian sel terprogram, bermanfaat untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Sementara Nekrosis adalah kerusakan sel yang berujung pada kematian sel tersebut, disebabkan oleh pencernaan komponen-komponen sel yang tidak teratur.

Photodynamic therapy dapat dikatakan sebagai salah satu metode pengobatan kanker yang paling menjanjikan di masa medatang. Hal ini disebabkan karena PDT punya efek samping yang tidak terlalu berisiko bagi kesehatan pasien. Efek samping yang mungkin terjadi hanyalah yang disebabkan oleh nekrosis sel. Selebihnya, PDT tidak berisiko mengancam kesehatan.

 

Coba kita bandingkan dengan kemoterapi yang mempunyai efek samping rambut rontok, gagguan pencernaan (bahkan setelah diberi obat antiemetik untuk meringankannya), serta memengaruhi jumlah sel darah putih (bisa berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh) dan sel darah merah (bisa menyebabkan pada anemia).

 

Tentu saja PDT memiliki risiko lebih rendah, sehingga cukup aman untuk dipilih. Terlebih lagi, PDT lebih efektif untuk mematikan sel-sel kanker. Penyebabnya adalah, pengobatan de­ngan PDT menggunakan sinar laser yang bisa dipancarkan khusus pada satu titik tertentu saja atau pada satu area tertentu. Dengan kata lain, sinar laser tadi hanya ditembakkan tepat di area sel-sel kanker berada, sehingga sel-sel yang mati hanyalah sel-sel kanker beserta sedikit sekali sel tubuh di sekitarnya.

 

Akan tetapi, metode ini juga mempunyai kekurangan. Kekurangan utamanya adalah pada photosensitizer. Kebanyakan photosensitizer mempunyai sifat hidrofobik atau sulit larut dalam air. Akibatnya, photosensitizer sulit  terakumulasi pada sel atau jaringan yang menjadi target tempat dipancarkannya sinar. Maka dari itu, PDT masih belum mempunyai rasio keberhasilan 100% untuk mematikan semua sel-sel kanker yang menjadi targetnya.    Terapi PDT  masih terbilang metode yang baru, sehingga memerlukan uji klinis lebih lanjut.

 

Akan tetapi, meskipun masih memiliki kekurangan, photodynamic therapy tetap dapat menjadi metode pengobatan kanker yang efektif dengan menyempurnakan photosensitizer-nya. Harapannya adalah, PDT akan mejadi metode yang menggantikan posisi kemoterapi saat ini. (Dicky Andrianto, mahasiswa S-1 Teknik Biomedis Institut Teknologi Bandung)***

Sumber:

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *